1. Melihat perkembangan dunia kriya sekarang, tentunya saya, kita, dan teman – teman mahasiswa lainnya patut berbangga hati. Kenapa? Tentu saja karena ilmu ini, ilmu tentang kerajinan tangan yang sama – sama kita geluti telah menjadi satu tolak ukur dalam…

    View Post

  2. Apa yang bisa Anda harapkan dari sebuah pameran fotografi? Gambar-gambar dengan resolusi tajam? Foto dengan model nan mulus? Tampilan warna-warna dramatis? Atau karya dengan tingkat kemahiran teknis yang rumit?

    Jujur, saya pun awalnya berpikir demikian. Tapi apa yang ditemukan dalam presentasi proyek TOP COLLECTION #3 ini sungguh menampar akal sehat dalam memandang fotografi. Lewat metode riset, pameran ini menawarkan perspektif atas praktik fotografis di masyarakat. Dalam pengantar kuratorialnya Julia Sarisetiati mengungkapkan bahwa “proyek ini mengundang partisipan untuk mengobservasi kembali posisi dan penggunaan medium fotografi di tengah medan sosial di mana kamera adalah bagian dari organ vital perangkat komunikasi, juga terhubung dengan ruang-ruang sosial yang virtual.”

    Membaca fotografi sebetulnya susah sekaligus gampang. Susah jika terlalu banyak teori dan berbagai penilaian. Membaca sebuah foto pemandangan, misalnya, jadi rumit saat harus memperhatikan ketajaman warna, ISO berapa yang sebaiknya dipakai, dan lain-lain. Menjadi gampang saat memahaminya sebagai bagian dari kehidupan dan budaya kontemporer yang kita alami. Nah, ruangrupa lebih memilih pembacaan yang gampang lewat pendekatan sehari-hari. Tapi apakah kemudian pameran ini menawarkan pemikiran yang dangkal?

    Membingkai Kuntilanak

    Yang pertama menarik perhatian saya adalah proyek berjudul Tampaknya Penampakan oleh Reza Mustar tentang foto-foto penampakan hantu. Foto muncul silih-berganti dalam format slide show pada monitor LCD TV. Terdengar suara beberapa orang menuturkan kisah personal mereka tentang foto-foto hantu yang pernah dialami. Di samping objek temuan, Reza juga mencetak dua buah banner foto kuntilanak berukuran 250 cm x 80cm. Keduanya ditempatkan di dua titik sekitar ruangrupa; tempat-tempat yang dipercaya berpenghuni. Menarik melihat penempatan banner ini sebagai site-spesific work.

    Mengutip pernyataan Reza di katalog pameran, “…perbincangan yang kadang mengalahkan serunya obrolan berjam-jam tentang seks, yaitu fenomena hantu dan hal mistis.” Ini persoalan serius karena menyangkut budaya yang berkembang di masyarakat. Hantu yang sebelumnya hanya berupa tokoh antah berantah serta bayangan khayal di tengah masyarakat sekarang telah meruang. Ia eksis! Lewat kemunculannya pada foto, hantu dapat diperbincangkan dan ditelaah. Bahkan kadang melengkapi hikayat keberadaannya sendiri.

    Hantu-hantu ini memang terlihat ingin difoto. Dalam beberapa gambar di video Reza, mereka tampak seperti ‘nyolong fokus’. Beberapa acara perburuan hantu di stasiun televisi swasta nasional mengabadikan kehadiran makhluk halus melalui lukisan. Pelukisnya terlebih dulu melakukan ritual; membaca doa dan mantra. Lalu dengan mata tertutup, ia menggambar. Tapi hal itu berbeda dengan hantu yang tertangkap kamera. Ada hal yang tak bisa digantikan oleh lukisan, apalagi yang dibuat dengan mata tertutup dan dibacai mantra. Pada sebagian besar foto penampakan, tampak ketidak-sengajaan. Lebih dari itu, ada kesamaan persepsi visual pada setiap orang. Hal ini tidak bisa dilakukan lewat sketsa, sebab goresan tangan mengacu pada pencerapan indra keenam sang penggambar. Di sini fotografi unggul telak. Foto penampakan kuntilanak, misalnya, membuktikan bahwa kuntilanak yang saya lihat kemarin akan sama dengan yang akan Anda lihat satu tahun yang akan datang.

    Apakah kamera digital dan internet berpengaruh pada perkembangan foto-foto hantu ini? Tentu saja. Dan itu sangat besar. Sebagian besar foto pada proyek Reza adalah hasil pencarian di internet. Sebagian besar pula diambil dengan kamera digital. Internet dengan segala macam turunannya (blog, forum, milis, dan sebagainya) telah mempermudah distribusi foto-foto ini. Sekarang orang di Pontianak (konon kota yang paling banyak kuntilanak) dapat membandingkan rupa kuntilanak yang telah ‘merantau’ ke sebatang pohon di daerah Tebet. Ada perbincangan lintas-kultur yang kemudian timbul, tanpa ada pemaksaan terkait ciri deksriptif tertentu. Indah bukan? Sebentuk toleransi di dalam kemistisan.

    Mari sejenak membayangkan kembali era analog. Dulu, Anda pergi ke Kebun Raya Bogor dan berfoto ria. Tidak ada kejadian apapun yang mencurigakan. Tiga bulan kemudian Anda mencuci foto di studio. Gambar hantu itu ternyata muncul. Voila! Tiba-tiba Anda merasa telah diikuti. Kemudian Anda sakit panas dingin, bahkan sampai memanggil orang pintar. Kamera digital memangkas waktu fiktif (yangtiga bulan itu) menjadi hitungan detik. Anda dapat langsung melihat hasil gambar yang diambil di suatu tempat angker dan merasakan ‘kehadiran’ mereka saat itu juga. Foto-foto ini lalu menjadi bukti otentik, bahwa mereka memang ‘menguasai’ pohon itu; rumah itu; dan jalan itu.

    Satu lagi aspek dari karya Reza yang menarik adalah wawancara bersama narasumber tentang foto penampakan yang mereka alami sendiri. Bincang-bincang seperti ini pasti sering terjadi, walau bukan dalam bentuk yang resmi. Pertanyaan pembuka seperti “eh… Serius lu kemaren liat?” atau ekspresi semacam “buset! tadi ada yang lewat nerobos jendela!” pasti jadi pembahasan berjam-jam. Orang kemudian berlomba menceritakan kejadian mistis itu. Semakin seram, semakin menarik. Dan mereka menceritakannya dengan sukarela, tanpa paksaan, apalagi dipungut bayaran. Sebuah hal yang mustahil terjadi pada topik mengenai seks, politik, atau ekonomi sekalipun.

    Ruang Virtual Fotografi: dari Megan Fox sampai Photobox

    Dalam proyek berjudul Teman-teman Selebriti, Agan Harahap memamerkan kepada pengunjung kedekatannya dengan beberapa tokoh penting dan selebriti dunia. Di dinding berjejer foto-foto yang bisa membuat Anda berdecak kagum. Dalam sebuah buku seukuran majalah pria dewasa, Agan merangkum catatan hidupnya. Ia mengawali pertemuan dengan Manny Paquiao, petinju terkenal asal Filipina itu, saat mengikuti pelatihan militer. Agan juga menceritakan hubungan khususnya dengan Jennifer Lopez. Foto-foto yang ada memang menunjukkan hal tersebut. Agan bahkan menampilkan foto di mana Ben Affleck yang cemburu mengacungkan jari tengah dengan kesal.

    Agan Harahap memaknai gagasan TOP COLLECTION #3 ini dengan jenaka. Tapi sebetulnya ia sedang menangkap isu sosial yang terjadi seputar praktik fotografi. Artis, vokalis band ternama, pelaku kriminal kelas kakap, politisi, seniman, koki, menteri, walikota, camat, lurah, bahkan tetangga, selama mereka terkenal, penting, dan berpengaruh, banggalah kita yang berdiri satu frame dengannya.

    Berbeda dengan berfoto di tengah panorama atau bersama benda-benda, mobil mewah misalnya, berfoto dengan subjek manusia memiliki nilai lebih tinggi. Ada kedekatan yang tergambar di dalamnya. Ada nilai interaksi yang tidak dapat dilakukan oleh benda mati; bersalaman dengan ekspresi gembira misalnya. Ada eksklusivitas di sana. Apalagi kalau tokohnya adalah pejabat super sibuk atau artis yang sedang dilanda kasus video porno. Di sini dapat dilihat juga relasi antar-subjek: selebriti dan penggemar, presiden dan rakyat, atau menteri dan kerabatnya.

    Dulu, foto seperti itu dicetak dengan ukuran tertentu dan diletakkan (dengan sengaja) di ruang tamu atau tempat lain di dalam rumah sehingga orang yang berkunjung dapat melihatnya. Ada harapan dari si pemilik foto untuk memberi impresi betapa dekatnya ia dengan tokoh di foto tersebut. Yang menarik, fenomena ini terjadi pada semua kalangan, dari konglomerat sampai rakyat kelas menengah. Rupanya berfoto dengan tokoh tertentu dapat meningkatkan rasa percaya diri dalam tata pergaulan sosial. Foto-foto tersebut dapat menunjukkan tingkat kekayaan, kesuksesan, kepintaran, bahkan spiritualitas.

    Sekarang, lewat media sosial, foto-foto itu menyeruak ke ruang virtual. Tidak lagi dicetak besar namun diunggah ke dalam laman Facebook dan Twitter. Sebuah foto cukup untuk memancing bermacam komentar. Sebagai proyek interaktif, Agan merespon hal ini dengan mengundang partisipasi pengguna Twitter untuk mem-Twitpic foto mereka bersama tokoh terkenal dengan mencantumkan hashtag#temantemanseleb. Puluhan, bahkan ratusan foto ini kemudian ditampilkan dalam format slide show.

    Nissal Nur Affryansah mengangkat fenomena penggunaan webcam di kalangan anak muda, terutama para gadis belia. Webcam terintegrasi, tertanam dalam komputer. Melalui berbagai fitur dan kemudahan, webcam menjadi bukti perkembangan teknologi kamera di abad ini. Bayangkan, dengan sekali sentuhan di mouse atau keyboard beberapa gambar dapat hadir dengan hasil yang berbeda-beda. Jika kurang maksimal, silakan tekan tombol delete dan ulangi prosesnya. Kemudahan ini menempatkanwebcam sebagai perangkat yang digemari untuk merekam diri sendiri.

    Pergeseran terjadi di sini. Awalnya kita menggunakan kamera sebagai medium untuk merekam warna, tekstur, cahaya, dan segala macam yang bisa ditangkap mata ke dalam data kimiawi atau digital. Proses ini terjadi satu arah. Sang fotografer menentukan objek, gaya, sudut, arah cahaya, dan sebagainya. Objek (manusia, benda, hewan, dan tumbuhan) tidak memiliki kuasa untuk menentukan hasilnya. Mereka adalah objek pasif. Sementara webcam menuntut sebaliknya: sebuah interaksi dua arah. Karena si pengguna merekam dirinya sendiri, dirinya adalah subjek sekaligus objek yang aktif. Kita bebas menentukan sudut pengambilan gambar, gestur, ekspresi, hingga efek manipulasi secara instan. Hal ini menimbulkan perubahan fungsi. Kamera sebagai alat rekam menjadi alat pemuas diri.

    Dalam perbincangan singkat di sela-sela pembukaan pameran, Nissal sempat berujar, “Sebetulnya webcam ini sudah ngegantiin photobox. Dulu orang juga masuk ke dalam kotak, pencet tombol, terus foto-foto. Bedanya dulu bayar dan dibatesin.” Menanggapi kelebihan webcam ia menambahkan, “kalo pake webcam, elu lebih bebas. Kalo jelek tinggal hapus atau malah diedit langsung. Bisa pake efek macem-macem. Dan elu bisa langsung upload kemana-mana. Lebih eksis.”

    Nissal menampilkan fenomena ini lewat tiga pendekatan; video slide show yang memperlihatkan foto-foto self-portrait yang didapat dari internet; video yang menayangkan perilaku remaja perempuan di hadapan webcam; dan terakhir, ia membuat akun Twitter, @klikjadi, yang mengajak pengunjung berpartisipasi dengan cara berfoto di depan sebuah komputer yang disediakan. Lewat akun ini ia juga mengundang siapa saja mengirimkan foto webcam-nya.

    Fotografi & Internet: dari Politik sampai Ruang Publik

    Duo Mahardika Yudha dan Mira Febri Mellya yang tergabung dalam The House is Black juga menampilkan hasil observasi dan pengumpulan data mereka terkait fenomena manipulasi foto yang beredar di Internet. Sebagai area umum, internet memang memberikan kesempatan bagi semua orang untuk melakukan hal yang sulit mereka lakukan di dunia nyata. Salah satunya adalah beredarnya foto-foto manipulasi untuk mewakili kemarahan publik atas masalah politik tanah air.

    Kita belum lupa dengan tersangka pidana korupsi, Gayus Tambunan, yang dengan konyol tertangkap kamera sedang berada di Bali dan menggunakan rambut palsu untuk menyamarkan diri. Tidak sampai 24 jam, di forum jejaring sosial seperti KASKUS, bermunculan foto-foto editan tentang Gayus yang hasilnya konyol setengah mati. Mereka melakukan cropping semampunya untuk kemudian dipasang-pasangkan (mirip permainan boneka jaman dulu) dengan wajah tokoh politik lain. Maka jadilah; SBY berambut gayus, Boediono berambut Gayus, dan sebagainya.

    The House is Black melihat fenomena ini sebagai bagian dari aktivisme sosio-visual yang ada di tengah masyarakat. Setelah dikumpulkan, foto-foto itu kemudian ditempel di dinding dan diberi caption seperti komentar-komentar di forum jejaring sosial. Sebuah buku yang dicetak di atas lembaran transparan diletakkan di dekatnya. Sayang, cahaya dari lampu di bawahnya yang sebetulnya berfungsi sebagai penerangan justru mengganggu penglihatan.

    Apa yang dilakukan oleh duo kreatif ini sebetulnya dapat menjelaskan peran foto dan perangkat lunak untuk manipulasi digital yang berkembang dengan pesat. Foto sebagai medium dalam menyampaikan protes politik dari rakyat terhadap pemerintah dirasa memiliki efek yang lebih mudah dibandingkan harus melakukan demo dan berhadapan dengan sikap represif aparat kepolisian. Foto tersebut, yang bersifat anonim, juga memberi kesempatan untuk ‘melakukan apa saja’ kepada tokoh-tokoh politik nasional yang terlibat skandal. Saya pribadi melihat, sifat anonim inilah yang kemudian menyebabkan praktik manipulasi foto digital berkembang dengan pesat di internet. Tidak mungkin bila fotografer sekelas Oscar Motulloh atau Arbain Rambey membuat foto seperti itu dan menampilkannya secara terbuka kepada publik.

    Secara psikologis, kegiatan memposting foto, memberi komentar, dan menyebarluaskannya dapat memberi kepuasan tersendiri. Masyarakat yang muak dengan praktik korupsi dan sandiwara politik tanah air, namun tidak memiliki kekuatan untuk melawan, menjadi sebab utama. Lewat foto-foto tersebut mereka dapat ‘membalas’ perbuatan para koruptor dan badut politik tersebut. Mengutip pernyataan The House is Black dalam katalog pameran, “…Mereka, sadar atau tidak, telah membelokkan konsep ‘pesan tanpa kode’ dan menikmati kejayaan eksplorasi digital terhadap medium foto.”

    Gagasan lain ditawarkan oleh salah satu performance artist negeri ini. Reza ‘Asung’ Afisina menampilkan dokumentasi dirinya sendiri dalam dua buah papan akrilik besar. Diterangi lampu neon di baliknya (yang ini tidak mengganggu penglihatan), foto-foto tersebut dapat dilihat dengan jelas. Ada foto di mana Asung melakukan performas, ia dan anaknya dalam pose yang konyol, hingga Ada ia telanjang dan melakukan gaya-gaya aneh. Hampir seluruh foto yang ia tempatkan di sana bisa memancing senyum pengunjung pameran. Namun tidak ada informasi tambahan untuk membantu pengunjung memahami apa yang dimaksud oleh Asung. Ketika mereka membuka katalog dan membaca pernyataan Asung, barulah dapat dipahami maksud dari karya tersebut.


    Asung tidak melakukan olah digital atau manipulasi terhadap foto-foto tersebut. Berbagai macam hal konyol tersebut memang murni dilakukannya. Di sini Asung mengumpulkan lagi foto-foto dirinya yang tersebar di jejaring sosial. Ia sedang melakukan riset atas penyebaran foto-foto di ruang virtual.

    Mari menganalisa secara sederhana. Apabila diamati dengan baik, seluruh foto menampilkan Asung sebagai objek foto. Sendiri atau bersama orang lain. Ini menunjukkan foto itu, sengaja atau tidak, bukan Asung yang mengambil. Berarti ada kemungkinan foto tersebut tersimpan di ponsel atau kamera digital orang lain. Dari tangan mereka foto-foto tersebut lalu menyebar. Mungkin lewat email, mms, atau yang paling mutakhir, Facebook dan Twitter.

    Facebook memiliki kemampuan berbagi foto yang unik. Dengan melakukan tagging, sebuah foto dapat menjadi milik orang yang namanya ada dalam daftar tagging. Ini mungkin sumber sebagian foto Asung. Entah keluarga atau teman, yang jelas mereka mengenal betul perilaku Asung yang ‘nyentrik’ sehingga tanpa sungkan memajang dan membagikan foto-foto tersebut di sana.

    Dalam katalog pameran, Asung menyebutkan pemikirannya: ”…saya sadar bahwa wilayah personal saya akan termodifikasi dan akan (atau bahkan sudah) menjadi milik umum.” Asung memang sedang membicarakan persoalan privasi dari sebuah foto dalam kaitannya dengan perkembangan media sosial. Ada sebuah konsep tidak resmi, yang kemudian disepakati bersama, bahwa ketika sebuah konten terunggah ke jaringan internet maka ia menjadi anonim dan dapat dimiliki oleh siapa saja.

    Saat internet belum menjadi penguasa baru dunia ini, berbagi foto dilakukan dengan sangat terbatas. Kita hanya memberikan sebuah foto kepada mereka yang berkepentingan dan dikenal dengan baik. Bisa jadi kerabat atau teman terdekat. Bahkan saat kamera digital telah muncul pun, keengganan untuk menyebarkan sebuah foto—terkait dengan berbagai macam privasi di dalamnya—masih sering muncul. Orang lebih sering menyimpan gambar digital ke dalam sebuah cakram padat atau flashdisk.

    Namun perkembangan jejaring sosial mengubah konsep ini. Mengunggah sebuah foto ke ruang sosio-virtual dapat menjadi sebuah hal yang biasa. Kadang kita melakukan itu sekadar untuk menunjukkan kedekatan kita dengan seseorang. Album foto digital pun dibagi agar orang lain dapat melihat kondisi pergaulan sosial kita. Tidak ada lagi privasi dalam hal ini. Seperti kata Asung, setiap orang nantinya dapat memiliki citra dirinya dan mereproduksi atau memanipulasinya secara gratis.

    ***

    Secara umum, pameran TOP COLLECTION #3 ini melebihi perkiraan saya akan sebuah pameran fotografi. Kendati tidak menampilkan gambar-gambar yang memuaskan mata, pameran ini memberi pemikiran yang memuaskan akal sehat kita. Menelaah kembali kemungkinan praktik– praktik fotografis dalam sebuah dunia virtual. Mencoba melihat kembali posisi kamera sebagai sebuah organ vital; bukan hanya sebagai media perekam pasif. Menikmati hasil olah digital yang tampil memancing tawa; meruntuhkan konsep berpikir yang kaku.

    Dalam berbagai kekurangan dan kelebihannya, ruangrupa mungkin berhasil menggeser pemahaman publik akan fotografi secara mendasar. Bahwa fotografi dapat dibicarakan secara sederhana, tanpa harus terkait dengan berbagai macam teori yang pelik. Mereka bisa jadi gambar- gambar profil kita di jejaring sosial. Bisa pula hasil ketikan mesin pencari Google terkait dengan isu politik terhangat. Atau bisa jadi mereka adalah bayangan-bayangan putih yang muncul kala kita mengambil gambar di kamar kita sendiri. Hiiiii….

    *)Leonhard Bartolomeus, lulus dari Fakultas Seni Rupa IKJ. Tinggal di pinggiran Jakarta. Kini bekerja sebagai grafis desainer, bergiat di ruangrupa; menulis untuk situs jarakpandang.net.

    **)Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di http://majalahcobra.com/blog/ruang-ruang-sosial-dalam-fotografi.html pada tanggal 6 Agustus 2012

  3. Dalam setiap proses berkehidupan, manusia sebagai makhluk sosial selalu membutuhkan sesamanya untuk berinteraksi. Interaksi tersebut diperlukan untuk menciptakan sebuah pertukaran rasa, gagasan, dan pemahaman akan suatu informasi. Proses pertukaran informasi ini dapat disebut sebagai sebuah bentuk komunikasi. Komunikasi sendiri memiliki arti suatu proses dalam mana seseorang atau beberapa orang, kelompok, organisasi, dan masyarakat menciptakan, dan menggunakan informasi agar terhubung dengan lingkungan dan orang lain1. Proses komunikasi ini menjadi penting manakala, ada sebuah informasi penting yang coba untuk diungkapkan kepada orang lain.

    Seni, secara keseluruhan juga merupakan bentuk dari proses berkomunikasi. Seni rupa terutama, bergerak melakukan komunikasi lewat tampilan visual yang dapat ditangkap secara kasat mata. Garis, warna, volume, barik, cahaya, dan sebagainya, merupakan elemen – elemen yang dengan mudah dapat diidentifikasi dan diterima dengan baik oleh manusia. Bahkan jauh sebelum ditemukan ‘bahasa bunyi’ yang kemudian menjadi identitas komunikasi manusia modern, manusia primitif telah menggunakan bahasa – bahasa visual sebagai bagian dari proses komunikasi2. Walau hal tersebut masih diperdebatkan, namun setidaknya kita telah mengenal bentuk – bentuk visual semenjak mata kita terbuka.

    Kesempatan untuk menikmati gagasan – gagasan yang dirancang seorang perupa dalam bentuk visual tentu akan menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda. Ide dan konsep yang dilontarkan seorang perupa dan diwujudkan dalam karya bisa jadi dengan mudah dapat diterima oleh orang lain atau mungkin sebaliknya. Umumnya, kesulitan untuk membaca dan mengapresiasi suatu karya seni (rupa) sudah ditangani dengan kehadiran kurator, kritikus, penulis, serta kolektor. Sebab tidak jarang terjadi, seorang perupa tidak dapat mempresentasikan konsep dari suatu karya yang dibuat kepada orang lain (yang tidak mengerti).

    Persoalan tersebut memang terkesan sepele. Bahkan muncul pula jargon ’ seni untuk seni’ yang kemudian diterjemahkan sebagai sebuah rambu untuk meniadakan aspek pemahaman orang kedua dan/atau ketiga sebagai elemen pelengkap suatu karya rupa. Kemampuan bicara (verbal) bagi seorang perupa, sekarang adalah sesuatu yang harus dimiliki secara sadar dan alamiah. Sadar artinya dia mengerti dengan benar apa yang akan dibicarakannya, siapa yang diajak bicara, serta cara penyampaiannya. Sedangkan alamiah berarti kemampuan ini bukan sesuatu yang dibuat atau dipaksakan. Kecenderungan untuk melakukan proses komunikasi ini memang seharusnya terjadi di ruang – ruang akademik. Di saat para calon perupa menempuh proses pendidikan. Namun apa daya, terkadang kelas dan ruang akademis lainnya hanya menjadi kotak ‘gema’ dimana yang terdengar hanya suara satu atau dua orang. Padahal kesadaran untuk berani berbicara di depan orang akan menjadi titik tolak penting keberhasilan seseorang dalam melakukan proses komunikasi.

    Kegiatan Kelas Malam (KM2) ini merupakan sebuah inisiatif yang dilandaskan akan sebab – sebab diatas. Didasari keyakinan ‘bisa karena biasa’, beberapa orang mahasiswa merumuskan mengenai program ini yang nantinya akan menjadi semacam ruang diskusi bagi mahasiswa. Kegiatan diskusi secara aktif ini diharapkan dapat memberikan rasa ‘terbiasa’ dalam menyampaikan gagasan dan konsep berkarya kepada orang lain. Selain itu, kegiatan ini juga ingin memunculkan kembali semangat berpikir mahasiswa, proses penyampaian gagasan yang demokratis, serta pembelajaran akan penghargaan terhadap cara kerja (berpikir) sebagai bagian penting dari proses penciptaan.

    1Ruben Brent D dan Lea P Stewart. (2006). Communication and Human Behavior. United States: Allyn and Bacon

    2Sanento Yuliman. (2001). Dua Seni Rupa, Sepilihan Tulisan Sanento Yuliman. Jakarta : Yayasan Kalam

  4. Review Pre – Event Jakarta 32°C 2012

    RuangRupa menutup bulan Juni tahun 2012 ini dengan mengadakan acara Pre-Event (Showcase) Jakarta 32°C 2012 di RURU Gallery. Jakarta 32°C adalah pameran dua tahunan (bienalle) karya visual mahasiswa Jakarta yang akan memasuki kali kelima pada tahun ini. Sebelum memasuki acara utama, RuangRupa bersama Komplotan Jakarta 32°C, selaku pengawas dan penanggungjawab acara ini, memutuskan akan mengadakan beberapa kegiatan ‘pemanasan’ yang salah satunya adalah pameran showcase ini.

    Pameran yang akan diadakan hingga tanggal 6 juli 2012 ini menampilkan sepuluh karya terbaik dari dua penyelenggaraan Pameran Jakarta 32°C sebelumnya, yaitu tahun 2008 dan 2010. Syahrul Amami, Daniel R.K. Kampua, Carterpaper, Gilang Merdeka, dan Tigersprong 3 adalah lima terbaik dari tahun 2008. Sedangkan dari tahun 2010 diwakili oleh Dhemas Reviyanto Atmodjo, Ficky Fahreza, Syaiful Ardianto, Angga Cipta, dan Komunitas Pencinta Kertas.

    Menurut Indra Ameng, Koord. Support and Promote RURU, tujuan diadakannya pameran showcase ini adalah sebagai pengingat akan adanya pencapaian estetik yang khas dan kemunculan gagasan - gagasan segar dalam perkembangan terakhir karya - karya visual dari mahasiswa Jakarta. Selain itu acara ini memang sepertinya bertujuan untuk memprovokasi semangat berkarya mahasiswa di Jakarta. Lagi, menurut Ameng, secara pribadi Ia mengharapkan karya - karya baru yang lebih segar dan lebih baik lagi. Karya yang lebih bandel dan lebih eksperimental.i

    Dari karya yang dipamerkan pada Showcase jakarta 32c kali ini dapat terlihat keberagaman karya yang selalu tampil setiap tahunnya. Mereka,para peserta, selalu menawarkan sebuah sudut pandang baru mengenai kota Jakarta ini. walaupun kadang ada kesamaan material dan medium yang digunakan, tetap saja memiliki pesan yang jelas berbeda satu sama lain. Hal ini dapat disimak pada dua karya fotografi. Daniel Kampua mengangkat isu mengenai identitas kebudayaan dan pluralisme (‘Petjes’ Identitas Hidupku,2008) sedang Dhemas Reviyanto mengangkat persoalan ironi kehidupan di Jakarta (The Wall, 2010). Kedua karya ini, cukup berhasil untuk menyampaikan pesan yang ingin diangkat, yakni tentang budaya dan kehidupan di Jakarta.

    Adapula mereka yang bergelut dengan masalah transportasi. Macet, Kurangnya armada transportasi serta semrawutnya organisasi kendaraan umum di Jakarta adalah isu yang masih tetap hangat untuk diangkat dan diketengahkan di dalam ruang pameran. Ficky Fahreza, menanggapi persoalan berlarut - larut yang terjadi pada moda transportasi paling murah di negeri ini, Kereta api. Dalam karyanya (Thousand Talk, 2010) ada sebuah ironi keadaan mengenai buruknya manajemen transportasi kereta api, namun di satu sisi masih merupakan satu - satunya moda angkutan yang paling terjangkau kaum menengah ke bawah. Lain halnya dengan Komunitas Pencinta Kertas (KPK), lewat karya bajaj kertasnya (Dicaci dan Dicari, 2010). KPK seolah ingin mempersoalkan ketidakmampuan pemerintah dalam memberikan armada transportasi yang layak. bajaj, di satu sisi kerap dikeluhkan orang sebagai sumber polusi dan macet, belum lagi dengan tingkah laku pengemudi yang suka ‘nyelonong tanpa permisi’. Akan tetapi di sisi lain, kehadiran bajaj masih diperlukan sebagai angkutan umum yang terjangkau dan tersedia 24 jam.

    Karya Syahrul Amami (Tambalan, 2008) sedikit banyak mengingatkan saya pada karya ruang publik dari Handy Hermasyah (Loebang - Loebang Djalanan, 2003)ii. Pada karya ini Syahrul menggambar bentuk - bentuk seperti tambalan/jahitan pada jalan - jalan aspal ibukota. Persoalan buruknya kualitas jalan yang terjadi di Jakarta, rasanya sudah menjadi makanan sehari - hari warganya. Jalan yang bolong acapkali hanya ditambal seadanya. Asal tertutup. padahal jalan yang tidak rata, terutama pada jalan - jalan protokol bisa menimbulkan bahaya bagi kendaraan yang melintas diatasnya. Syahrul, sama seperti yang dilakukan Handy di Bandung pada 2003. mencoba meningkatkan ‘kesadaran’ para pengendara yang melintas, untuk berhati - hati dan mengurangi kecepatan saat melihat bagian jalan yang ada ‘jahitannya’. karya ini juga merupakan kritik sosial bagi pemerintah yang dianggap lalai dalam memperhatikan urusan keselamatan warganya. Sedang pada karya Carterpaper (resign system, 2008) lagi - lagi kekurangtanggapan pemerintah pada sistem transportasi menjadi sebuah tema yang menarik. Mereka ‘merancang’ ulang serta dengan ‘sukarela’ membuatkan sign system untuk warga jakarta. sebuah hal kecil dan sepele yang mungkin terluputkan dari mata pemerintah.

    Persoalan budaya Jakarta juga menjadi isu yang banyak diangkat dalam pameran Jakarta 32°C. Karya Tigersprong 3 (Benyamin S : Muke Gile…!,2008) merupakan sebuah karya video selama 15 menit yang membicarakan soal Benyamin Sueb. Seorang seniman dan budayawan asli Betawi. Ada video - video film Benyamin, lagu -lagu yang pernah ia buat dan nyanyikan, serta tanggapan dari beberapa warga Jakarta mengenai sosoknya. Berbeda lagi kasusnya pada Syaiful Ardianto, atau biasa dikenal Jah Ipul. Dia mengangkat sisi negatif dan budaya kriminalitas yang marak terjadi di Jakarta (Welcome to The Trap City, 2010). Sebuah kanvas besar dengan elemen grafis tengkorak berwarna merah, seolah siap menerkam warga Jakarta. Rasa - rasanya karya ini perlu dipasang sebagai banner di samping tugu - tugu selamat datang di seantero Jakarta. sebagai pengingat akan bahaya yang selalu mengintai di setiap sudut kota ‘penjebak’ ini.

    Karya Angga Cipta (24 jam sibuk jakarta, 2010) tampil seperti sebuah brand kebudayaan urban yang lumrah di Jakarta. sebagai kta sibuk, pusat perputaran bisnis dan ibu kota negara yang rumit, Jakarta (dan warganya) seolah tidak pernah punya waktu istirahat, sehingga selalu sibuk selama 24 jam. Angga menciptakan beberapa objek dari ‘proyek’ tersebut. ada stiker, wallpaper handphone, wallpaper komputer, dan lainnya. Jenis karya yang sama dapat ditemui pada karya Gilang Merdeka (Magrudergrind, 2008) yang seperti menciptakan sebuah proyek factory outlet (distro) lewat karya - karya ilustrasinya. Budaya distro sendiri sudah menjadi bagian tersendiri dari perkembangan gaya hidup anak muda di Jakarta. Aplikasi yang dibuat oleh Deka, demikian ia biasa disapa, di atas kaos, poster, serta beberapa bentuk interaktif lainnya.

    Sepuluh karya ini tentunya belum mencerminkan seluruh pandangan mahasiswa jakarta dalam memandang kota ini. Namun, setidaknya karya - karya ini dapat menjadi tolak ukur mengenai keberagaman berkarya para mahasiswa di Jakarta. masih ada beberapa event ke depan yang akan dilakukan juga guna menyongsong datangnya pameran Jakarta 32°C yang kelima. yang jelas, kegiatan Jakarta 32c ini akan terus berjalan sebagai ajang untuk memperluas jaringan antar satu kampus dengan kampus yang lain, dengan harapan kegiatan kolaborasi antar mahasiswa dapat terus terjadi.iii

    Selamat Mengapresiasi!

    PRE EVENT JAKARTA 32°C – 2012

    Pameran – Pemutaran Film - Diskusi

    Pembukaan:
    Sabtu, 30 Juni 2012 | Jam 19.00
    Dimeriahkan oleh: Kelley Donahue (USA)

    di RURU Gallery
    Jl. Tebet Timur Dalam Raya no.6
    Jakarta Selatan 12820

    PAMERAN:
    30 Juni – 6 Juli 2012 | 11.00-21.00 | di RURU Gallery
    Pameran 5 Karya Terbaik JAKARTA 32°C 2008 & 2010
    Pemutaran Dokumentasi Video JAKARTA 32°C 2004 – 2010

    PEMUTARAN FILM:
    3 – 5 Juli 2012 | Jam 17.00 & 19.30 di Kineforum, TIM
    Pemutaran Karya Film Pendek & Video JAKARTA 32°C 2004 – 2010

    DISKUSI:
    4 Juli 2012 | Jam 15.00 di Kineforum, TIM
    Diskusi “Jakarta dalam Film Pendek dan Video karya mahasiswa”



    *)Leonhard Bartolomeus,Kontributor jarakpandang.net , Peserta Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual RURU 2012

    KatalogPre-EventJakarta32°C2012,Indra Ameng, 2012.

    ii Informasi lebih lanjut mengenai Handy dan karyanya dapat dilihat di http://archive.ivaa-online.org/archive/artworks/detail/4178/Artist/231

    iii KatalogPre-EventJakarta32°C2012, M. Sigit Budi S. 2012

  5. Seni dalam budaya Indonesia adalah gejolak ontologis dalam ruang pemikiran metafisis
    Jim Supangkat 
  6. Indonesian Visual Art Archive

    Sebuah organisasi yang mengkhususkan diri untuk mengarsipkan seluruh data tentang sejarah seni rupa Indonesia.

  7. Fransiskus Widayanto adalah salah satu tokoh penting dalam peta perkembangan dunia keramik Indonesia. Beberapa bahkan menyebutkan bahwa ia adalah tokoh keramik terdepan Indonesia dalam beberapa dekade (1). Perjalanan Widayanto untuk menjadi seorang keramikus tidaklah mudah. F. Widayanto lahir di Jakarta pada 23 Januari 1953. Ia masuk Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB pada tahun 1981. Di sinilah Widayanto muda belajar keramik dari dua guru tersohor, Eddie Kartasubarna dalam hal seluk beluk keramik dan Rita Widagdo yang memperkenalkan prinsip estetika seni modern (2). Sebagai seorang keramikus di era yang serba ‘kontemporer’ ini, Widayanto memilih untuk berjalan di jalur tradisional, dengan elemen – elemen dekoratif yang hampir pasti selalu menyertai setiap karyanya, baik karya ekspresi maupun fungsional.

    Kecenderungan untuk menuju ke arah ini sebetulnya sudah terlihat semenjak ia kuliah di ITB. Meskipun memiliki guru – guru yang memiliki kecenderungan modernis, ia malah memilih untuk menjauh. Ia kemudian hanya mengambil prinsip – prinsip dasar estetika modern, untuk kemudian dieksplorasi dalam karya – karya keramiknya. Ketertarikan kepada unsur tradisional serta tema – tema yang dekoratif itu muncul karena dalam pandangannya, hal iru merupakan kekayaan bangsa yang harus dilestarikan. Sampai sekarang, F. Widayanto masih setia dengan tema – tema dekoratif dan tradisi yang diusungnya. Dalam beberapa pameran tunggal yang pernah diselenggarakan, Widayanto acap kali mengangkat tradisi – tradisi Jawa. Baginya kedekatan dengan budaya tradisional merupakan sebuah hal yang bisa dieksplorasi oleh para keramikus Indonesia. Pameran Loro Blonyo serta Ukelan misalnya, menampilkan budaya – budaya Jawa yang kemudian diberi sentuhan kekinian, sehingga tidak jarang menjadi sebuah ikon baru yang unik dan inovatif. Dalam beberapa pameran terakhirnya, Widayanto juga mengekspos budaya Hindu – Buddha yang telah lama berakar dalam kebudayaan masyarakat Jawa. Kesetiaannya pada tradisi seperti merupakan sebuah perlawanan dari kecenderungan seni kontemporer yang semakin bergerak bebas tak tentu arah.

    Untuk seniman keramik, skill dan pengetahuan teknis merupakan komponen penting dan utama. Dalam konteks ini, karya – karya Widayanto jelas memiliki aspek teknis yang sangat tinggi. Kemampuan artistiknya dalam mengolah figure dari lempung dan penerapan glasir, menjadikannya sebagai seniman yang mampu menggabungkan antara ekspresi budaya Jawa dengan semangat modern yang menyentil (3). Baginya, tanah sama seperti kanvas, perunggu, perak atau emas. Seorang pelukis akan sangat menghargai kanvas sebagai wadah berekspresi. Ia juga memaknai tanah sebagai wahana yang bisa diajak berdialog, berekspresi dan mengaktualisasikan diri. Itulah sebabnya barangkali, Ia tidak pernah ambil pusing dengan segala macam perdebatan mengenai posisi seni keramik dalam konstelasi seni rupa masa kini. Bagi dirinya, keramik adalah medium yang menarik sekaligus menyulitkan. “Yang menarik di keramik kira-kira begini. Semua barang kalau dibakar akan rusak. Tapi ternyata, keramik membalikkannya, semua barang yang dibakar justru semakin kuat,” ungkap Widayanto. Hal ini, memang terkadang menjadi batu sandungan bagi mereka yang baru belajar keramik. Tingkat kesulitan yang tinggi untuk menguasai keramik kadang menjadikan seseorang berhenti mempelajari material ini. Padahal menurut pria dengan kumis tebal ini, tidak pernah menyerah adalah satu – satunya jalan untuk meraih kesuksesan sebagai keramikus.

    Membicarakan F. Widayanto juga berarti berbicara tentang kemampuan manajemennya yang baik serta jiwa entrepreneurship yang selalu ia bagikan kepada setiap orang. Perjalanan karirnya sebagai seorang seniman keramik didukung pula dengan kondisi finansial yang baik, yang sebagian besar berasal dari bisnis keramiknya. Usai pameran perdananya di Erasmus Huis pada tahun 1987 yang bertajuk ‘Wadah Air’, Widayanto memutuskan untuk membuka sebuah studio di daerah Tapos, Bogor. Studio tersebut kemudian berkembang menjadi pusat produksi barang – barang fungsional miliknya. Kemampuan manajemen Widayanto yang baik membuat usaha itu semakin berkembang dengan membuka beberapa outlet serta Galeri pribadi di berbagai tempat, Tanah Baru (Depok), Setiabudi dan Panglima Polim (Jakarta). Hal inilah yang membuatnya berbeda dengan seniman – seniman (keramik) lainnya. Ia mampu mengembangkan diri di antara kecenderungan menciptakan keramik sebagai alat ekspresi diri serta keramik sebagai alat bantu kehidupan manusia. Kini, Ia bekerja sama dengan seniman dari Jepang Nikko Kobayashi untuk mengembangkan lini produk terbarunya yang berbahan dasar porselen.

    Fransiskus Widayanto, tidak dapat disangkal lagi, merupakan salah satu bagian penting dari perjalanan sejarah perkembangan keramik di Indonesia. Karya – karyanya yang dibuat hand built memiliki nilai serta citra tersendiri. Kesulitan – kesulitan yang acapkali ditemui oleh para keramikus baginya bukan halangan untuk menciptakan karya yang memiliki tampilan estetis. Karya dan Pameran – pameran Widayanto menunjukkan bahwa ia tidak sekedar berkarya, namun juga mengubah bayangan banyak orang tentang seni keramik. Apa yang dilakukan oleh Widayanto telah jauh melampaui keramikus – keramikus modern lain. Ia dengan sukses telah mengangkat seni keramik ke ruang pamer serta merebut perhatian pasar, sehingga kini seni keramik dapat sejajar dengan seni patung dan seni lukis. Widayanto juga, barangkali, merupakan seniman keramik yang paling aktif berpameran tunggal. Tercatat kurang lebih sudah sebelas kali ia melakukannya. Sebuah hal yang mungkin, akan cukup lama untuk disamai oleh keramikus lain.

    (1)Katalog Pameran Fan-Tastic Lady. Galeri Canna. 2005. Jakarta

    (2)Keramik Widayanto dan Perempuan. Asikin Hasan. Galeri Canna. 2005. Jakarta

    (3)In Between Space of Ceramic Art. Rifky effendi. Jakarta Contemporary Ceramic Bienalle#1. 2009. Jakarta


  8. Paul Jackson Pollock (1912 – 1956), adalah seorang pelukis Amerika yang sangat berpengaruh dan merupakan tokoh utama dalam gerakan ekspresionis – abstrak. Sepanjang hidupnya, terutama setelah menemukan teknik action painting, Pollock menikmati hidup dengan ketenaran yang besar. Sebagai individu dia memiliki karakter yang keras, tetapi teguh dan stabil. Dalam buku 100 Great Artist (pg. 154) tertulis bahwa Pollock, dengan teknik melukisnya telah membantu New York untuk menggantikan Paris sebagai ibukota avant – garde seni modern.

    Pollock : Awal Kehidupannya 

    Tahun 1912 di Cody, Wyowing, Jackson Pollock lahir. Anak bungsu dari 5 bersaudara. Sebagai seorang anak, Pollock terlahir dengan bakat yang biasa saja. Di awal masa remajanya, Pollock yang sering mengikuti ayahnya bepergian tertarik dengan kebudayaan masyarakat asli Amerika, Indian. Hal ini nantinya akan mempengaruhi perkembangan Pollock sebagai seorang pelukis abstrak. Tahun 1930, Pollock dan adiknya, Charles Pollock belajar di bawah bimbingan Thomas Hart Benson di Art Student League of New York. Ketertarikan Benson kepada kehidupan masyarakat pinggiran sebagai subjek utama berkarya, tidak terlalu mempengaruhi Pollock. Akan tetapi, ritme penggunaan cat serta kebebasan bergeraknya, akan berdampak sangat besar pada karya Pollock. 

    Dalam film biografinya, Pollock dikisahkan memiliki semacam ketergantungan pada alcohol yang menyebabkan dirinya sering berada di luar kendali dan kerap bertindak emosional. Untuk menanggulangi hal ini, Pollock diawasi dan berada di bawah kontrol Jungian Psikoterapi. Dari program inilah, Pollock kemudian disarankan untuk mengatasi kecanduannya lewat lukisan dan gambar. Hal ini, konon, menyebabkan beberapa konsep psikoterapis Jungian ini muncul dalam karyanya. Di akhir hidupnya, muncul sebuah hipotesa yang mengatakan bahwa Pollock mengidap penyakit bipolar disorder. Pollock juga sempat bekerja sebagai pelukis di Federal Arts Project, dimana dia mendapat pengaruh dari Picasso dan surealisme Eropa.

    Lukisan Pasir Suku Navajo

    Pollock dan Surrealisme

     Pollock mengembangkan komposisi lukisannya dengan cara membiarkan gambarannya bergerak secara spontan. Dia menyebut teknik ini Direct Painting dan membandingkannya dengan gaya menggambar suku Indian Navajo. Yang pembuatannya dilakukan dengan menaburkan pasir berwarna membentuk garis tipis, diatas bidang horizontal. Pollock mengklaim bahwa bagaimanapun, hal ini menunjukkan maksudnya yang telah tiba pada suatu keadaan.

    Pada awal perkembangan lukisannya, Pollock terpengaruh oleh gaya surealisme Eropa. Dimana ia melukis dengan menggunakan insting, atau acap disebut Psychic Automatism. Sebagai seorang Amerika, gaya melukis Pollock kemudian membuatnya cukup tenar. Terutama setelah ia mengadakan pameran tunggal pada 8 November 1943 di galeri milik Peggy Gugenheim, Art of The Century Gallery. Pollock yang kala itu telah menikah dengan Lee Krasner, juga seorang pelukis abstrak, diberikan fasilitas untuk berkarya. Namun sayang, kegemaran Pollock untuk menenggak minuman keras, membuatnya sulit untuk berkonsentrasi dalam menyelesaikan karya. Hal ini mendorong Lee, pada 1945 untuk memindahkan tempat tinggal mereka. Peggy kemudian memberikan tempat baru di daerah Springs, yang kemudian sekarang dikenal sebagai Pollock – Krasner House and Studio. Di sini, Pollock menemukan dan menyempurnakan teknik melukisnya, yang nantinya akan membuat dia sangat terkenal.

    Action Painting, The Ice Breaker

     Perkenalan Pollock dengan penggunaan cat cair (liquid paint) sebetulnya telah terjadi sejak ia 

    No. 5 , 1948

    mengikuti sebuah workshop eksperimental yang diselenggarakan di New York oleh muralis Meksiko David Alfaro Siqueiros. Ia kemudian menggunakan teknik tuang (pouring) sebagai bagian dari karya awalnya. Setelah pindah ke Springs, Pollock mulai bereksperimen. Ia mulai melukis dengan meletakkan kanvasnya di lantai studio. Dalam adegan film, digambarkan bahwa tekniknya ditemukan dengan tidak sengaja. Saat ia sedang melukis, cat yang berada di kuas bercucuran di lantai. Pollock langsung berpikir bahwa teknik ini dapat ia coba. 

     Seperti sudah ditakdirkan, Pollock kemudian sangat tertarik dang mengembangkan teknik yang ia sebut drip ini. Pollock terus mengembangkan teknik ini dan mulai menggunakan barang – barang yang ada di rumah sebagai pengganti kuas. Batang kayu, sikat kaku, bahkan, penggilas kue dapat digunakannya. Ia menyebut hal ini sebagai ‘sebuah kebutuhan yang tumbuh dengan natural’. Teknik pouring dan dripping yang dilakukan Pollock dianggap sebagai asal mula ungkapan Action Painting. Edward de Kooning, rival sekaligus sahabat Pollock bahkan mengakui, Pollock telah memecahkan kebuntuan atau dalam ungkapan aslinya, “He broke the ice..”

    Pollock sangat menyangkal kecelakaan dan/atau ketidak sengajaan. Ia mengatakan, “I don’t like the accident, cause I deny the accident.” Ia mengatakan, dirinya selalu mempunyai ide dan gambaran tentang bagaimana gambar dan bentuk yang ia ingin hasilkan. menurutnya, dengan pengalaman (melukis), sangat mungkin untuk mengontrol pergerakan cat di atas kanvas, sehingga dapat menjadi yang diinginkan. Tekniknya yang mengkombinasikan gerakan tubuhnya, aliran cat, tekanan gravitasi, dan proses absorpsi cat terhadap kanvas. Itu adalah gabungan dari faktor yang terkontrol dan tidak terkontrol. Melayangkan, meneteskan, menuangkan, bahkan mencipratkan cat. Ia akan bergerak penuh energi ke sekeliling kanvas. Hampir – hampir menari, dan tidak akan berhenti sampai dia melihat apa yang dia ingin lihat.

    Pollock, akhir kisah

     Lukisan – lukisan Pollock yang paling terkenal dibuat pada ‘periode drip’ antara 1947 dan 1950. Statusnya kemudian meroket hingga menjadi sangat popular ketika, majalah Life memuat 4 halaman berita untuknya. Dengan judul headline, “Is he the greatest living painter in the United States?”

    Tapi, di puncak ketenarannya, Pollock tiba – tiba meninggalkan gaya dripping – nya. Karya – karya Pollock setelah tahun 1951 cenderung menggunakan warna – warna gelap, termasuk sebuah karya yang hanya dicat dengan warna hitam. Selama periode ini Pollock telah pindah ke sebuah galeri yang lebih besar , ia juga kemudian kembali menggunakan warna dan bentuk – bentuk figurative dalam karyanya. Dalam menanggapi permintaan lukisan baru yang sangat banyak dari kolektor, Pollock merasa tertekan dan kembali ke alcohol.

    Pollock ingin mengakhiri pencarian orang atas representasi elemen dalam lukisan – lukisannya, oleh karena itu ia meninggalka pemberian judul dan mulai memberi nomor pada karyanya. Mengenai hal ini Pollock mengatakan, “ lihatlah dengan pasif dan terima apa yang lukisan ini tawarkan dan jangan membawa masalah mengenai subyek atau ide yang telah terbentuk atas apa yang mereka cari..” Lee Krasner pun mengatakan bahwa Pollock awalnya memberikan judul biasa, tapi kemudian dia menyederhanakannya menjadi nomor. Nomor bersifat netral. Dan menurut Krasner, itu akan membuat orang melihat lukisan itu apa adanya, sebuah lukisan murni.

    Pollock masih melukis dua karya terakhirnya, Scent dan Search di tahun 1955. Pada tahun berikutnya, Pollock tidak pernah melukis sama sekali. Setelah berjuang melawan kecanduan alcohol yang dideritanya sepanjang sisa hidupnya. Pada 11 Agustus 1956, pukul 10:15 pm, Pollock meninggal akibat kecelakaan tunggal karena mengemudi di bawah alcohol.

  9. Kurang lebih satu bulan yang lalu saya berkesempatan untuk bertandang ke markas Indonesian Street Art Database (ISAD), sebuah organisasi nirlaba yang bekerja untuk mendorong kemajuan street art di Indonesia (info lebih lanjut tinjau www.indonesianstreetartdatabase.org ).

    Acara diskusi itu bertajuk Presentasi Pemetaan Jejaring Komunitas street art Indonesia. Isi acara itu sudah pasti berkaitan dengan presentasi tentang pemetaan yang telah dilakukan. Pada kesempatan itu, kota Cilacap, Solo, Kendal, Yogyakarta, serta Semarang mendapat kesempatan untuk dipresentasikan terlebih dahulu. Sebagai seorang observer, saya cukup puas dengan presentasi yang disajikan. Acara diskusi dan presentasi berjalan dengan cukup lancar dan hangat. Beberapa materi yang dipresentasikan juga cukup menarik untuk dibahas, seperti kegiatan festival mural di Kendal yang ternyata berkaitan dengan nuansa mistik di tempat kegiatan. Kemudian soal ‘waktu pamer’ karya - karya street art di Yogyakarta yang umumnya berkisar antara satu sampai dua hari. Hingga menyerempet soal senioritas serta peniruan karya yang masih sering terjadi di beberapa daerah.

    Dari acara diskusi yang pertama tersebut, muncul dalam benak saya pemahaman bahwa street art bukan lagi hal yang asing bagi sebagian masyarakat. Akan tetapi, dalam prakteknya terkadang masih mendapat ganjalan dan larangan dari pemegang kekuasaan legal (baca: birokrasi pemerintah). Tidak jarang street artist (sebutan untuk pelaku street art) mendapat perlakuan represif dari pemerintah. Proses pembuatan mural (bukan iklan dan pesan pemerintah) masih harus dilakukan di malam hari dan ‘kucing - kucingan’ dengan aparat. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan dalam benak saya, mengapa hal tersebut masih saja terjadi. Bukankah street art, seharusnya memiliki potensi dan diperlakukan sama dengan bentuk seni rupa lainnya? Apakah tidak ada kemungkinan street art dipelajari sebagai sebuah disiplin ilmu atau sebagai bagian budaya masyarakat?

    Masyarakat pada satu sisi merupakan apresiator yang paling baik bagi sebuah karya seni. Pameran - pameran lukisan besar pun masih membutuhkan apresiasi dari masyarakat, bukan sekedar dari kolektor atau pengamat saja. Pada titik ini street art mempunyai keunggulan. Karya - karya street art yang umumnya tersebar di ruang - ruang publik (kota, terutama) memiliki potensi perhatian dari masyarakat yang paling luas. Walaupun terkadang sebagian hanya bersikap acuh tak acuh, mereka tetap memberikan apresiasinya. Menilik hal ini seharusnya posisi street art dapat disamakan dengan cabang seni rupa lainnya. Namun, terkadang stigma yang muncul (baik dari pemerintah maupun masyarakat) adalah negatif. Street art dipandang sebagai bagian pinggiran dari produk seni rupa. padahal sudah cukup banyak pameran - pameran street art yang diadakan serta mengambil tempat di galeri – galeri seni rupa lengkap dengan kuratornya.

    Pandangan ini harus diubah. Pemerintah tidak dapat lagi menganggap street art sebagai sebuah ekses dari keadaan masyarakat yang tertekan. Persoalan mengenai tema karya street art yang umumnya berisiprotes - protes anti pemerintah, anti kemapanan, serta yang sifatnya revolusioner tentu saja tidak dapat dianggap sebagai sebuah harga mati terhadap hasil produk street art. Itu adalah pilihan konsep serta statement dari masing - masing seniman, yang tidak dapat diatur oleh siapapun. Malahan, potensi baru tentang street art seharusnya dapat dicari dan dapat diungkapkan. Street art —bila diorganisir dengan baik— dapat menjadi media alternatif yang dapat memberikan pembelajaran mengenai seni rupa kepada masyarakat. Pendidikan formal seni rupa memang telah banyak hadir, namun hanya segelintir orang saja yang menjalaninya. Menjalani pendidikan seni rupa, belum menjadi pilihan bagi sebagian besar masyarakat.

    Street art dengan kemampuannya untuk hadir di tengah - tengah masyarakat dengan pesan dan konsep yang jelas, setidaknya dapat memberikan inspirasi bagi mereka yang melihat dan/atau tertarik dengan karya tersebut. Bentuk - bentuk street art sendiri sudah dimanfaatkan dengan sangat baik oleh provider telepon seluler. Lewat mural - mural di tembok kota, mereka dengan mudah mengiklankan produknya. Sedikit banyak, hal ini tentu mendapat perhatian dari masyarakat.

    Contoh soal yang terjadi, adalah kegiatan street art di Kendal. seperti yang disampaikan Isrol Medialegal, salah seorang pembicara dalam kegiatan diskusi ISAD, bahwa kegiatan lomba mural dilaksanakan untuk mendekorasi tampilan sebuah pabrik gula tua yang konon terkesan angker di daerah itu. Hal tersebut menunjukkan bahwa street art telah mendapatkan posisi sebagai sebuah bentuk seni rupa yang dapat dinikmati dan dihargai. Dari fenomena itu juga, mungkin, dapat diambil opini bahwa masyarakat telah belajar tentang kaidah estetik dalam pengolahan ruangan, walaupun hanya sedikit tetapi munculnya kesadaran itulah yang merupakan hasil dari pembelajaran tentang seni rupa.

    Potensi ini juga dapat terlihat dari sebaran komunitas - komunitas street art di berbagai daerah penyokong Jakarta. Di daerah Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi bermunculan komunitas street art yang umumnya beranggotakan anak muda dan/atau anak SMA. Proses penjangkauan masyakat inilah yang sulit untuk dilakukan cabang seni rupa lainnya misalnya, seni lukis, ataupun patung, yang masih bersifat eksklusif serta tidak dengan mudah dijumpai oleh masyarakat. Artinya secara sadar ataupun tidak, bentuk - bentuk street art yang sering dijumpai di jalan telah meninggalkan sebuah impresi atas bentuk pemahaman akan seni rupa yang layak. Kesan akan ‘kerennya’ suatu karya street art kemudian dapat mendorong orang untuk menyelidiki lebih jauh dan bahkan kemungkinan muncul keinginan untuk bergabung dengan komunitas di daerahnya serta berkembang menjadi street artist yang baru.

    Kebebasan berpendapat dan berekspresi tanpa perlu berbasa - basi dengan teori dan segala macam hal yang memberatkan, menjadi nilai sempurna bagi keberadaan street art sebagai media pembelajaran. Bahkan, proses peniruan gaya gambar serta ikon, bukan menjadi suatu masalah yang besar. Lumrah terjadi, mereka yang masih belajar pasti akan meniru atau setidak - tidaknya menyamai gaya street artist yang mereka sukai. itu merupakan bagian proses berkarya, sebelum nantinya mereka akan menemukan style tersendiri. Sebagian street artist bahkan menganggap hal itu biasa saja. karena pada akhirnya yang ditiru hanya gaya atau teknik dalam berkarya bukan konsep serta gagasan yang diusung sang seniman.

    Fungsi street art sebagai media pembelajaran juga dapat memberi manfaat bagi bentuk kesenian lain, terutama seni rupa. Bisa saja, seseorang yang tertarik pada stencil di kemudian hari malah lebih tertarik mempelajari teknik cukil dan menjadi seorang seniman grafis yang handal. dapat dikatakan bahwa street art dapat menjadi gerbang informasi pertama bagi mereka yang belum tahu tentang dunia seni rupa.

    Seluruh aspek yang telah disinggung di atas tentu dapat menjadi bahan pemikiran bahwa street art bukan lagi sebuah bentuk seni yang terpinggirkan. Pesannya jelas, memiliki konsep yang kuat serta didukung dengan tampilan visual yang baik telah membawa street art ke dalam fungsi baru sebagai jalan alternatif untuk mendidik serta membudayakan seni rupa dalam kehidupan masyarakat kota. Lewat hal ini pula, mungkin suatu saat, street art akan menjadi sebuah bentuk kesenian yang mampu membangun dan membentuk karakter masyarakat yang sadar akan budaya.

    Tulisan ini merupakan sebuah interpretasi bebas atas apa yang saya dapat dalam hasil diskusi tersebut, sekaligus sebuah gagasan untuk pengembangan street art ke depan.

  10. Fallor, Ergo Sum
    St. Agustinus
Next

IDIOT-PARTY

Paper theme built by Thomas